GURU TERBAIK PILIHAN SEMESTA

Selalu ada guru yang hadir menitipkanmu sesuatu.

Mereka mengajarimu, membentakmu, menegurmu, menghukum jiwamu, sampai akhirnya mengetuk hatimu.
Bisa dibilang, mereka adalah guru-guru terbaik pilihan semesta.

Baca lebih lanjut

Iklan

Berlatih menjadi Generasi Jaman Now yang Melek Baca

“Hah! Membaca?”

Huft.. Melelahkan. Membosankan. Bikin ngantuk.. apa lagi, apa lagi?

Isi sendiri ya..

Saya pun sering kelelahan mendengar keluhan tersebut. Artinya, pernah merasakan kelelahan langsung bagi diri sendiri dan mendengar keluhan orang lain terkait membaca. Sensasi perasaan antara keduanya memang beda tipis.

Kalau pertanyaan “mengapa harus membaca?” dilontarkan kepada generasi jaman now, mungkin tanggapan mereka lebih ekstrim daripada jawaban diatas.

Era tekonologi yang berkembang pesat, memungkinkan orang-orang semakin cepat menyaplok beragam informasi. Sehingga.. saya, dan beberapa generasi jaman now senasib, lebih betah melototin media sosial, seperti: IG, FB, Youtube, dll. Tidak bisa dipungkiri, ini sebuah pengakuan dan kejujuran. True! Hehehe.

Baca lebih lanjut

Lelaki dan Sekeping Rindu – Part 04 (Ending)

Tidak semua kisah harus diceritakan hingga usai. Sebab adanya ruang kemisteriusan menjadikan suatu kisah semakin menarik dan selalu membuat penasaran. Begitu pula dengan kisahmu, Lelaki. Masih banyak kepingan yang harus kupenuhi agar dapat menceritakan dengan utuh, kepingan milikmu.

Butuh ribuan hari harus kulamunkan senja, membiarkan tubuh terhujam ratusan hujan yang menjatuhkan jutaan rintiknya, menyatu dengan keheningan malam.. demi dapat merasakan tentang kerinduanmu.

Baca lebih lanjut

Lelaki dan Sekeping Rindu – Part 03

Siang umpama jelmaan terang, baginya tetap saja kelam. Dan sinar rembulan di wajah malam, masih dianggap padam. Niskala mana lagi yang terlihat sedikit kilau baginya? Selain dalam ruangan rahasia milik si Lelaki.

Ruangan yang menyimpan ‘Anugerah itu’, dibangun dengan sebongkah asa, tentang jumpa kedua. Beralaskan tanah basah air mata. Beratapkan puisi. Ratusan senja menghias sepanjang dindingnya.

Baca lebih lanjut

Lelaki dan Sekeping Rindu – Part 02

Salah satu kebahagiaan terbesar manusia diantaranya memiliki perasaan tentang indahnya cinta.

Makhluk abstrak ini –sebuah cinta– bagaikan anugerah tanpa batas. Anugerah paling indah. Anugerah yang Tuhan selipkan dalam setiap relung hati insan semesta.

“Pernah ‘Anugerah itu’ singgah dalam kehidupanku…” katanya mulai tersenyum, sambil menatap rembulan di tengah malam. Aku menyimak.

Baca lebih lanjut

Lelaki dan Sekeping Rindu

Lelaki dan Sekeping Rindu – Part 01

Sekeping kenangan masih tersimpan rapi dalam lemari hatinya. Selalu dirawat dengan sepenuh tabah. Terlalu rapi, meski diketuk ribuan musim. Hanya dua kunci dapat membuka lemari tersebut, hatinya dan hati perempuan yang ia cinta.

Lelaki rapuh, tentu yang sedang kita bicarakan, membuang kepingan lain pada lorong-lorong waktu. Sebuah lubang hitam, yang ia percaya enggan mampir dalam lamunan. Tidak lagi singgah disetiap ingatan.

Baca lebih lanjut

Jurnal tentang Penulis

Dari sekian ribu detik yang singgah dan berlalu, diantara kebisingan hingga kesunyian, aku baru tersadar.

Ini tentang menulis, dunia kepenulisan, something to tell, atau something to share atau apapun yang mereka sabdakan.

Bahwa keresahan-keresahan yang selama ini begitu mengiris hati dan perasaan, entah kisah pribadi atau pengalaman orang lain, semua harus tumpah dalam satu wadah besar bernama “Tulisan”.

Baca lebih lanjut

Mengumpulkan Sense Menulis

Hallo.. apa kabar teman-teman? Bagaimana semangatnya di dunia literasi?

Maafkan sudah menghibernasi diri atau lebih tepatnya menghilang dari peredaran dunia maya, dari postingan di rumah digital ini. Fyi, for your information, baru saja saya membersihkan sarang laba-laba yang udah menumpuk. Hiks.

Literasi akan tetap hidup dengan atau tanpa karya-karya kita.” -Anonim-

Dooorr!!

Horor banget yak quotes random diatas. Seolah menampar wajah-wajah yang tidak serius dalam dunia literasi, terutama wajah saya.

Baca lebih lanjut

Satu-satunya Alasan

Satu-satunya alasan aku bertahan
dari berbagai pisau kerinduan dan
ribuan panah yang memburuku selama ratusan langkah
mengejar satu nama
hanya karena wajahmu
juga kehadiran-kehadiran itu
tertaut dalam singgasana paling indah
betapa rapi sebab kutata sendiri
dari air mata yang kuaduk dengan puing-puing sisa harapan
juga reruntuhan maglihai yang pernah ada
dalam setungku asa.

Baca lebih lanjut